Menyusuri Masjid Cipaganti dan Cerita Kejayaan Pengusaha Susu Lembang
Minggu pagi, 15 Mei
2017. Sehari sebelumnya saya janjian dengan salah seorang narasumber untuk ikut
menyusuri kawasan Cipaganti, Bandung. Dalam hati bergumam akhirnya kesampaian
juga untuk jalan-jalan di kawasan ini.
Sebagai warga Bandung,
kawasan Cipaganti dikenal sebagai pemukiman elit. Itu dulu memang, ketika era
kolonial. Sekarang kawasan elit di Bandung rasanya sudah banyak juga.
Tapi Cipaganti memang
legendaris. Tempat ini memang diproyeksikan menjadi area pemukiman orang-orang
Eropa pada masa itu.
Nah, berikut kisahnya…
Sepintas orang hanya mengenal ruas Jalan Cipaganti dengan kerindangannya. Namun, jalan yang kini bernama Raden AA Wiranata Kusumah itu punya nilai historis yang belum banyak diketahui masyarakat.
Ruas jalan Raden AA
Wiranata Kusumah membentang cukup panjang dan dikenal sebagai kawasan ramai di Kota
Bandung. Bahkan, pendatang dari luar negeri pun tak sedikit yang mengenali
jalan ini.
Jalan Cipaganti merupakan
ruas jalan yang membelah Kecamatan Sukajadi dan Kecamatan Coblong. Ciri khas
utamanya yaitu pohon-pohon besar di kiri dan kanan jalan. Di sepanjang jalur
ini mudah ditemukan rumah-rumah elit peninggalan Belanda.
Selain terkenal dan
mengesankan, kawasan ini juga terdapat Masjid Cipaganti yang monumental. Masjid
ini dirancang oleh Charle Prosper Wolff Schoemaker yang menggabungkan gaya
arsiterktur Eropa dan Jawa. Di zaman dulu, masjid Cipaganti menjadi masjid
pertama yang berada di kawasan pemukiman bangsa Eropa.
Dalam buku Toponimi
Kota Bandung (Bandung Art & Culture Council, 2008) yang ditulis T.
Bachtiar, Etti RS dan Tedi Permadi diungkap nilai historis nama Cipaganti.
Berdasarkan unsur kata pembentuknya, Cipaganti berasal dari kata Ci atau cai (air)
yang merupakan aspek hidrologis dan Pangganti yang berasal
dari kata ganti.
Penamaan Cipaganti
sendiri berkaitan dengan rencana pemerintah kolonial memindahkan pusat
pemerintahan dari Dayeuh Kolot di selatan ke salah satu tempat di utara
Bandung. Meski demikian, Cipaganti yang diproyeksikan menjadi pusat
pemerintahan saat itu tak pernah terwujud.
Sementara itu, Jalan
Cipaganti yang kini berubah menjadi Jalan Raden AA Wiranata Kusumah, bupati
pertama Bandung pasca pusat pemerintahan berpindah ke sisi barat Cikapundung.
Masjid Cipaganti
Daya tarik kawasan
Cipaganti ini membuat komunitas pemerhati sejarah kota, Lembang Heritage dan
Heritage Lover menggelar Jejalah Jalan Cipaganti pada Minggu, 7 Mei 2017.
Puluhan anggota
komunitas ini menyusuri kawasan Cipaganti seperti masjid, jalan raya hingga
rumah keluarga Ursone yang dikenal sebagai pengusaha susu di Lembang.
Para peserta jelajah
diperkenalkan mengenai beberapa peninggalan sejarah. Mereka berkumpul sejak
pukul 8 pagi di masjid Cipaganti yang dibangun pada tahun 1933 itu. Masjid ini
merupakan salah satu bangunan warisan masa Hindia Belanda.
“Dulunya, orang dari
kawasan Gegerkalong (sebelah utara) dan yang berada di sekitar sini menggunakan
masjid Cipaganti untuk salat dan lain-lain,” kata Wakil Ketua komunitas Lembang
Heritage, Malia Nur Alifa.
Dijelaskan Malia,
arsitektur masjid memadukan unsur arsitektur Jawa dan Eropa. Hal itu tampak
dari menara segitiga yang juga menjadi kubah masjid. “Untuk gentingnya
menggunakan kayu sirap dan bagian depan terdapat pilar-pilar yang merupakan
gaya arsitektur Eropa,” jelas dia.
Namun, dulunya di
dekat masjid tersebut terdapat pabik cokelat Mafalda milik PA Ursone.
Mafalda adalah nama anak PA Ursone dengan seorang wanita pribumi
bernama Nyi Oerki yang beragama Islam. Karena pegawai pabrik coklat sebagian
besar adalah muslim, maka PA Ursone kemudian mendirikan masjid
tersebut.
Sementara itu, jika
melihat ke bagian dalam masjid terdapat tiang-tiang kayu jati yang menjadi
penyangga masjid. Model masjid Cipaganti ini mirip dengan sejumlah masjid di
daerah lain di Indonesia seperti Masjid Banten, Demak dan Masjid Agung Cirebon.
Di samping area masuk
masjid terdapat prasasti. Salah satu prasasti menerangkan bahwa Masjid Besar
Cipaganti adalah bangunan Cagar Budaya yang dilindungi Undang-undang.
Keluarga Ursone dan
Penghasil Susu yang Terkenal
Jelajah kawasan
Cipaganti berikutnya yaitu ke rumah keluarga Ursone. Rumah ini beralamat
di jalan Hata nomor 11. Bangunan rumah tua itu masih tampak asri dan terawat.
Adalah M. Taufik,
menantu Ronny Noma yang menyambut rombongan Jelajah Cipaganti. Ronny merupakan
anak pertama pasangan Mafalda dan Noma. Diketahui, Mafalda sebelumnya pernah
menikah dengan M. Nuh dan dikaruniai 3 anak.
Menurut Taufik, rumah
keluarga Ursone dibangun pada tahun 1930. Rumah ini tidak memakai
paku untuk menyambung kayu penyangga. Kondisi rumah juga tidak ada yang berubah
sejak pertama kali dibangun. Sementara itu pada bagian lantai terdapat marmer
yang diimpor dari Italia.
“Sekarang rumah
dipakai usaha katering,” terang Taufik.
PA Ursone,
pendatang berkebangsaan Italia pertama yang menetap di tanah Priangan pada
tahun 1880. Keluarga Ursone terdiri dari empat orang bersaudara yang
pergi merantau ke Hindia Belanda dan kemudian menetap di Lembang.
Keluarga Ursone adalah
peternak sapi perah di kawasan Lembang dimulai pada tahun 1895. Dari hasil
usaha tersebut keluarga Ursone mampu membangun perusahaan susu
Lembangsche Melkerij Ursone yang saat itu terkenal se-Hindia Belanda
sebagai penghasil susu terbaik dengan kualitas tinggi.
Berdasarkan catatan,
keluarga Ursone awalnya memiliki 30 ekor sapi perah yang didatangkan
langsung dari Friesland, Belanda. Hanya dalam waktu singkat, sapi-sapi itu
berkembang mencapai 250 ekor. Produksi pun meningkat, yang semula hanya 100
botol per hari bertambah menjadi ribuan liter setiap harinya.
“Tempat penampungan
susu itu salah satunya ada di Cipaganti. Dulu, pekerja berjalan kaki dari
Lembang ke Cipaganti dengan membawa susu,” terang cicit PA Urson itu.
Selain menjadi
pengusaha, PA Ursone rupanya seorang pengacara. Keluarga Ursone pun
dikenal menyukai musik. Adapun benda yang sering dimainkan saat itu adalah
organ yang sampai saat ini masih berada di dalam rumah.
Pria yang akrab disapa
Buyung ini menerangkan, kakek buyutnya adalah saudagar tanah. Tak hanya di
Bandung, tanah tersebut tersebar di Pangalengan, Subang, Sumedang hingga
Sukabumi.
“Keluarga Nyi Oerki
mewakafkan tanah seluas 6.000 meter persegi lalu dibangun masjid. Masjid
Cipaganti itu digunakan untuk para pekerja yang melakukan shalat,” tutur
Taufik.
**Tulisan
ini sudah dimuat di https://www.liputan6.com/regional/read/2952201/masjid-cipaganti-dan-kisah-kejayaan-pengusaha-susu-lembang?source=search



Komentar